• Selasa, 17 Mei 2022

Oknum Pengusaha Kota Palu Diduga Selundupkan Material Tambang Pakai Dokumen Getah Kayu

- Rabu, 12 Januari 2022 | 04:43 WIB
Untitled-1
Untitled-1

JurnalNews - Salah seorang pengusaha asal Kota Palu, diduga telah melakukan penyelundupan material tambang, keluar Wilayah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) secara ilegal.

Material tambang berupa bebatuan yang mengadung bahan tembaga (CU) tersebut disinyalir berasal dari wilayah Hutan Lindung Desa Oyom, Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli.

Modus operandi yang dilakukan oknum pengusaha tersebut dengan cara culas. Pasalnya, pelaku mengirimkan material tambang dengan cara menggunakan peti kemas (kontainer). Selain itu, material yang diduga dikirim ke luar negeri melalui pelabuhan Pantoloan itu menggunakan dokumen getah kayu, untuk mengelabuhi petugas pemeriksa.

Selain itu, material yang diduga dikirim ke luar negeri melalui pelabuhan Pantoloan itu menggunakan dokumen getah kayu.

Dikutip dari PortalSulawesi jejaring JurnalNews, pemilik hasil tambang ini membawa material menuju Kota Palu melalui jalur darat menggunakan truk.

Sebelum dimasukkan ke kontainer, puluhan ton material tambang itu ditampung di salah satu gudang milik perusahaan asing di Wilayah Kota Palu.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, meski sebagian kecil pernah diamankan aparat di Polsek Lampasio, namun sebagian besar lainnya diduga sudah masuk Kota Palu dan sudah dikirim menggunakan kontainer ke luar pulau Sulawesi.

Dari data yang diperoleh, setidaknya terdapat 50 ton bahan material tambang yang diduga mengandung unsur Tembaga (CU) yang telah lolos masuk Kota Palu.

Sementara sebanyak 25 ton diduga telah berhasil diseludupkan ke luar Kota Palu melalui pelabuhan Pantoloan menggunakan dengan memasukkan ke dalam kontainer.

Menurut sumber terpercaya, bahan material tambang ini bisa lolos dan dikirim ke luar Wilayah Sulteng karena oelaku menggunakan dokumen jalan yang menyatakan bahwa isi kontainer tersebut berupa Getah Kayu asal Kabupaten Tolitoli.

“Material batu mengandung tembaga itu, dipakaikan dokumen getah kayu untuk bisa lolos masuk pelabuhan dan dikirim keluar pulau,” ungkap sumber yang meminta identitasnya tidak disebut.

Pernyataan sumber itu, diperkuat tokoh masyarakat yang berdomisili di sekitaran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pantoloan. Dia mengaku mengetahui benar bahwa material yang diangkut pakai kontainer di gudang PT One Hong adalah material bebatuan asal tambang, bukan getah kayu seperti yang tertera di dokumennya.

“Kontainer yang muat bebatuan seperti itu, diangkut dari gudang PT One Hong di Taipa. Kalau ditempat saya kerja, hanya memuat getah pinus dan getah kayu lainnya,” jelasnya saat ditemui di kediamannya, Senin (10/01/2022).

Dikatakan, gudang yang disewa perusahaan asing PT One Hoo di Taipa, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu dijadikan tempat penampungan sejak akhir tahun 2021 lalu. Sebelumnya, gudang tersebut adalah gudang kopra.

Salah seorang warga sekitar bernama Warda (45) yang ditemui media ini membenarkan bahwa sudah sebulan belakangan ini gudang itu dipakai untuk menampung materil tambang. Warga sekitar mengetahui bahwa material tambang yang ditampung adalah material jenis nikel.

“Dulunya gudang itu tempat penampungan kopra, sekarang disewakan untuk menampung bahan tambang nikel. Mereka lalu bekerja hingga larut malam untuk mengisi kontainer,” jelas Warda.

Menurutnya, material yang diangkut dengan memakai armada truk tersebut berasal dari tambang di wilayah Gorontalo.

“Pengakuan buruh waktu mengangkut itu materialnya dari Gorontalo, dikase masuk dalam karung goni putih dan disusun masuk kontainer lalu dikirim ke pelabuhan,” katanya.

-
Truk peti kemas yang diduga digunakan mengangkut material tambang dari gudang penampungan. | Foto: Istimewa

Kapolsek KP3 Pelabuhan Pantoloan, Ipda Nur Habib Auliyah S.Tr.K yang ditemui membenarkan kalau pihaknya telah melakukan penundaan keberangkatan sebuah kontainer milik seseorang yang belum melengkapi dokumen pengiriman barang. Kapolsek mengaku, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak perusahaan ekspedisi untuk melakukan penundaan pengangkutan terhadap salah satu kontainer tersebut.

“Benar kami melakukan withhold sebuah kontainer yang belum melengkapi dokumen. Kontainer tersebut sejak Sabtu 8 Januari 2022 masih berada di lokasi penampungan milik perusahaan pelayaran Temas Line,” ungkap alumni Akpol tahun 2018 itu saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa 11 Januari 2022.

Hasil pantauan media ini, di depo milik Perusahaan Pelayaran Temas Line di sekitar Fly Over Pantoloan, tampak sebuah peti kemas (kontainer) bernomor lambung TEGU 287158-“3 “/22 GI berwarna merah terlihat belum diangkut masuk pelabuhan.

Dalam peti kemas yang ditahan pihak Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) Pantoloan tersebut, diduga berisi ratusan karung berisi material bebatuan mengandung unsur tembaga (CU) dengan bobot sekitar 25 Ton dari Kabupaten Tolitoli.

Hingga berita ini tayang, belum diketahui siapa pemilik material bebatuan bahan tambang yang diduga mengandung unsur tembaga (CU) asal hutan lindung Desa Oyom, Kecamatan Lampasio, Kabupaten Tolitoli itu. Bahkan pemilik gudang tempat penampungan di Taipa, tepatnya Jalan Trans Sulawesi, Kelurahan Taipa, Palu Utara, Kota Palu itu belum bisa ditemui. ***

Editor: JurnalNews

Tags

Terkini

X