PASAR BESAR SEPI PEMINAT

- Kamis, 20 Januari 2022 | 13:22 WIB
joko intarto
joko intarto

Oleh: Joko Intarto
Awalnya hanya diundang untuk mendiskusikan penawaran jasa ambulans. Tidak disangka pembicaraan mengalir jauh: Menggagas manajemen jasa pemakaman yang terintegrasi. Melibatkan banyak penyedia jasa dalam satu ekosistem besar.

Pertemuan itu terjadi hari Selasa lalu. Berdua saja: Pak Lambang Saribuana dan saya mewakili PT Surya Sejahtera Umat (SSU) memenuhi undangan manajemen RS Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih. Agendanya hanya mendiskusikan kesiapan mengelola jasa ambulans.

Selama ini RSIJ bekerjasama dengan vendor atau mitra rekanan dalam penyediaan jasa ambulans. Ada tiga jenis jasa ambulans yang disediakan RSIJ:

1. Jasa ambulans untuk mengangkut pasien Covid-19 dari ruangan perawatan medis (misalnya IGD) ke ruang isolasi.

2. Jasa ambulans untuk mengangkut jenazah dari RSIJ ke rumah duka atau pemakaman di Jabodetabek, atau rumah duka di Jabodetabek dan luar negeri.

3. Jasa ambulans untuk mengangkut jenazah member Yayasan Nafsul Mutmainah dari rumah duka ke pemakaman.

Bagaimana dengan jasa ambulans untuk mengangkut pasien dari rumah ke RSIJ? Untuk jasa ini sudah banyak penyedianya. Misalnya lembaga yayasan sosial, lembaga amil zakat, lembaga pemerintah, perusahaan swasta dan lembaga klinik kesehatan.

Yang menarik adalah jasa ambulans untuk mengangkut jenazah member Yayasan Nafsul Mutmainah. Apa hubungan yayasan ini dengan RSIJ? Ternyata sejarahnya panjang: Sudah terjalin hampir 30 tahun yang lalu.

Dulu Yayasan Nafsul Mutmainah adalah yayasan yang berdiri sendiri. Prinsip kerjanya mengelola iuran anggota agar bisa mendapatkan jasa ambulans berstandar baik dengan biaya terjangkau. Dalam perjalanannya, operasional Yayasan ini kemudian disatukan dalam manajemen RSIJ Cempaka Putih.

Yayasan Nafsul Mutmainah memiliki anggota kurang lebih 40 ribu orang. Sebanyak 30 ribu orang di antaranya berstatus sebagai anggota aktif. Mereka membayar iuran anggota secara rutin Rp 6.000 per bulan. Kalau bayar setahun sekaligus mendapat diskon sebulan.

Setiap tahun jumlah member barunya meningkat. Rata-rata 2.000 orang. Tetapi pada kurun waktu yang sama, member lamanya berkurang karena meninggal dunia. Rata-rata 800 orang. Sebanyak itulah kebutuhan jasa ambulans untuk Yayasan Nafsul Mutmainah. Bila ditambah layanan ambulans jenazah di luar member yayasan, jumlahnya lebih banyak lagi.

Untuk melayani pengantaran jenazah dari rumah sakit maupun Yayasan Nafsul Mutmainah, RSIJ menyediakan 9 unit ambulans. Dua unit milik RSIJ, 4 unit milik Yayasan Nafsul Mutmainah dan 3 milik mitra. Masing-masing ambulans diawaki driver yang siaga 24 jam.

Dalam situasi normal, jumlah armada tersebut sudah mencukupi. Jumlah armada tiba-tiba terasa kurang ketika terjadi lonjakan kebutuhan. Misalnya, saat puncak Covid-19 dua tahun terakhir. Saat ini situasi pandemi sudah terkendali.

Dari praktik pelayanan jasa sosial inilah, manajemen RSIJ mendapat banyak masukan dari anggota Yayasan Nafsul Mutmainah. Mereka mengusulkan agar yayasan mengembangkan layanan yang lebih luas hingga penyediaan lahan makam muslim yang dikelola secara professional.

Rupanya banyak member yang terinspirasi dengan kehadiran pengelola lahan makam seperti Pemakaman Taman Sentosa, Pemakaman San Diego dan Pemakaman Muslim Al-Azhar. Tiga-tiganya berlokasi di Karawang, Jawa Barat.

Jasa pemakaman adalah jasa sosial yang melibatkan banyak lembaga bisnis dalam ekosistemnya. Di Singapura, sejak dua tahun lalu, muncul satu kategori lembaga baru: Perusahaan yang bergerak dalam program pelayanan sosial. Ada penerbit media cetak yang mengubah status perusahaannya menjadi seperti itu. Kabarnya disetujui. Saya membaca informasinya dari tulisan Pak Dahlan Iskan, di media online Disway. Di Indonesia saya belum tahu. Apakah sudah ada nomenklaturnya.

Jasa pemakaman memiliki pangsa pasar 100 persen. Tetap diperlukan sepanjang masa. Sampai kiamat. Meski demikian, jasa pemakaman menjadi salah satu jasa yang tidak diminati pengusaha. Sekarang SSU mendapat peluang itu. Diambil atau tidak? ***

Editor: JurnalNews

Tags

Terkini

SE Kemenhub: PPDN Tak Wajib Lagi Tes Covid-19

Rabu, 18 Mei 2022 | 21:51 WIB
X