• Selasa, 17 Mei 2022

Pengawasan Lemah, Pelaksana Proyek Ruas Buol-Lingadan Diduga Abaikan Kualitas

- Kamis, 10 Juni 2021 | 19:52 WIB
pasir laut pjn
pasir laut pjn

JurnalNews - Lemahnya pengawasan membuat pelaksana sejumlah proyek jalan nasional (PJN) di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah tak berkualitas. Salah satunya proyek preservasi jalan nasional ruas Buol - Lakuan -Laulalang - Lingadan, Tahun 2021 yang ditengarai menggunakan pasir laut, sehingga patut diduga pelaksana mengabaikan kualitas pekerjaan tersebut.

Yusuf Andi Mappiase salah satu aktivis Kabupaten Tolitoli, mengkritisi proyek pemeliharaan jalan nasional tersebut.

Ia meyakini kualitas jalan akan berada di bawah standar akibat penggunaan pasir laut yang tidak melalui distabilisasi dengan cara menghilangkan kandungan garamnya.

"Jika hal tersebut telah dilakukan, maka pasir laut itu bisa dijadikan material karena kandungan garam sulfanya tidak ada.
Namun untuk menghilangkan kadar garam sulfat pada pasir laut, bukan hanya disiram begitu saja lalu digunakan. Prosesnya itu, memakan waktu 2 sampai 3 bulan baru bisa dimanfaatkan, " tegasnya.

Menurut Andi Mappiase, semua ini terjadi karena lemahnya pengawasan PT Bintang Inti Megatama selaku konsultan, proyek Rp17,7 miliar tersebut.

Harusnya konsultan pengawas, cermat melakukan pengawasan dan evaluasi, bukan justru melakukan pembiaran di lapangan ada material yang di bawah standarisasi dan tidak sesuai RAB tapi tetap dipaksakan.

"Kami berharap konsultan tidak kehilangan fungsi kontrolnya, apalagi pengawas kan dibayar juga dari anggaran APBN,” tandas Andi Yusuf Mappiase, Kamis 10 Juni 2021.



Sebelumnya, Kasatker PJN Wilayah I, Irfan yang dikonfirmasi mengaku belum bisa memberikan keterangan secara rinci karena belum mendapatkan laporan dari tim di lapangan.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Davis yang dikonfirmasi soal penggunaan material pada pekerjaan pasangan batu menyebutan, bahwa material berupa pasir pantai yang digunakan tidak ada masalah. Asalkan pasir pantai yang sudah bertahun-tahun di darat, dan kadar garamnya sudah berkurang.

“Kalau cuma pekerjaan pasangan batu, tidak ada masalah kalau material pasir yang digunakan sudah bertahun tahun di darat dan kadar garamnya sudah berkurang,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Ilham selaku pelaksana pekerjaan dengan nilai kontrak Rp17.716.742.000,00 itu juga mengakui menggunakan material pasir laut yang diambil dari tepi pantai Desa Pinjan, Kecamatan Tolitoli Utara.

Ilham beralasan, material yang digunakan selama ini hanya mengikuti pekerjaan-pekerjaan jalan sebelumnya.

“Materialnya sudah lama digunakan pada pekerjaan sebelumnya, jadi kami tinggal mengikuti,” jelasnya.

Saat ditanyakan apakah material yang digunakan sudah dilakukan uji laboratorium, ia tidak dapat memberikan penjelasan. Karena selama ini belum pernah melihat lokasi pengambilan material, baik yang ada di Desa Lakea maupun di Desa Pinjan.

“Kami belum pernah lihat lokasi pengambilan material, yang tahu itu mandor,” bebernya.

Namun Ilham meminta kepada media ini agar tidak membesar-besarkan soal penggunaan material berupa pasir laut.

“Kalau bisa pak tidak usah dibesar-besarkan,” pintanya via telepon. ***

Editor: JurnalNews

Tags

Terkini

X