• Rabu, 29 Juni 2022

Belum Ada Wabah PMK di Sulteng, Kebijakan Balai Karantina Resahkan Pedagang Ternak Antar Pulau

- Kamis, 19 Mei 2022 | 12:33 WIB
Ilustrasi. Dampak ekonomi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap hewan ternak makin nyata dan menghawatirkan. (Pexels/Min AN)
Ilustrasi. Dampak ekonomi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terhadap hewan ternak makin nyata dan menghawatirkan. (Pexels/Min AN)

JurnalNews - Penyebaran wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) pada hewan ternak khususnya sapi, terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Untuk Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga kini belum ada laporan adanya wabah tersebut menyerang ternak di daerah ini.

Asosiasi Pedagang Ternak Antar Pulau Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) justru dibuat resah dengan kebijakan Balai Karantina Hewan yang mewajibkan untuk mengkarantina hewan yang akan dikirim ke luar daerah.

Keresahan tersebut timbul karena lamanya waktu mengkarantina hewan yang akan dikirim ke luar daerah, yakni selama 14 hari sesuai Surat Edaran Kementerian Pertanian.

Baca Juga: Wabah PMK, Kaltim Hentikan Pasokan Sapi dari Jatim dan NTB

Baca Juga: Wabah PMK Mulai Jangkiti Sapi di Sumatra Barat

"Kami tidak masalah kalau harus mengkarantina hewan yang akan dikirim. Tapi lamanya waktu karantina itu yang akan membuat biaya kami makin membengkak," jelas H. Ilham Ilyas, Ketua Asosiasi Pedagang Ternak Antar Pulau Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kepada JurnalNews.id, Rabu 18 Mei 2022.

"Karena hitunganya untuk 30 ekor sapi, biaya pakan saja per hari sudah menghabiskan Rp1 juta. Jadi kalau sampai 14 hari otomatis menghabiskan Rp14 juta per 30 ekor sapi saat karantina. Belum lagi bayar tenaga," sambungnya.

Menurut H. Ilyas, pihak Balai Karantina Hewan terlalu kaku dan hanya berpatokan pada Surat Edaran Kementerian Pertanian tentang karantina hewan, terkait wabah PMK.

Halaman:

Editor: Sutrisno

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X