• Jumat, 19 Agustus 2022

Covid-19 Diprediksi Jadi Endemik, Apa Bedanya dengan Pandemi?

- Senin, 1 Maret 2021 | 19:01 WIB
virus_corona
virus_corona

JurnalNews - Sejumlah pakar memprediksi Covid-19 besar kemungkinan akan menjadi endemik. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut, Covid-19 kemungkinan akan menjadi endemik.

Prediksi itu berdasarkan temuan dari penelitian yang melibatkan 100 ahli imunologi hingga para ahli virologi, 90 persen di antara mereka setuju Covid-19 akan menjadi endemik.

"Saya pikir itu akan menjadi 'budaya' baru bagi dokter menanyakan apakah seseorang terinfeksi bakteri atau terkena virus? Jika seseorang terkena virus, apakah itu flu biasa, atau virus Corona?" ujar profesor dari La Jolla Institute for Immunology, Erica Ollman Saphire, dikutip dari CNBC, Senin 1 Maret 2021.

Lalu, apa bedanya Endemik dengan Pandemi?

Endemik adalah kehadiran suatu penyakit atau infeksi secara terus menerus yang biasa terjadi dalam suatu wilayah geografis. Ada juga hiperendemik ketika tingkat kejadian penyakit terus-menerus tinggi.

Endemik juga terkait dengan penyakit yang muncul pada negara atau wilayah tertentu yang spesifik dalam rentang waktu tertentu, biasanya bertahan hingga hitungan tahun.

Contoh Endemik di Indonesia meliputi demam berdarah dengue (DBD), malaria, hingga kusta.

Pandemi
Melansir detikhealth dari Medical Xpress, dalam istilah epidemiologi, Pandemi diartikan sebagai penyakit yang mewabah di sebagian besar dunia dalam waktu bersamaan. Sebelum Covid-19 merebak luas, ia dinyatakan sebagai epidemi.



Adapun penyakit yang sempat menjadi pandemi adalah:

- Flu Spanyol 1918
- Flu Asia 1956
- 1958
- HIV-AIDS
- Flu Babi

Endemik
Sementara pakar penyakit menular Dr Pritish Tosh dari Mayo Clinic menyebut Endemik hanya terjadi di beberapa wilayah dalam rentang waktu tertentu.

"Dalam istilah epidemiologi, wabah mengacu pada sejumlah kasus yang melebihi apa yang diharapkan. Pandemi adalah ketika ada wabah yang menyerang sebagian besar dunia. Kami menggunakan istilah endemik ketika ada infeksi dalam lokasi geografis yang ada selamanya," bebernya.

"Ketika kita berbicara tentang infeksi endemik, kita berbicara tentang virus, bakteri dan patogen yang ada di dalam suatu lokasi geografis," kata Dr Tosh.

Kepala Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, ikut menanggapi hal ini. Ia menegaskan, mungkin saja Covid-19 akan menjadi Endemik.

Pakar menyebut, sebuah penyakit memang tidak bisa langsung hilang begitu saja.

Menurutnya, penyakit umumnya memang akan menjadi endemik dahulu, tidak benar-benar bisa hilang. "Penyakit itu kalau tadinya pandemi, nggak mungkin bisa langsung hilang, jadi akan endemik dulu kemudian menjadi poradis abis itu hilang," sebut Miko, Senin 1 Maret 20121.

"Semua penyakit yang sudah menjadi pandemi akan turun ke endemik, kemudian nggak bisa kemudian hilang begitu saja, kecuali kalau vaksinasinya 100 persen. Efikasinya 100 persen," jelas Miko.

Ia juga ikut menyoroti perhitungan matematis yang dilakukan sejumlah pakar soal Covid-19 akan usai di April 2021. Hal ini menurutnya sangat tidak mungkin jika tak ada perubahan besar terkait penanganan COVID-19.

Menurut Kepala Miko, umumnya, penyakit memang akan menjadi endemik lebih dulu sebelum kemudian akhirnya bisa hilang atau terkendali. Miko menyebut, Covid-19 akan menjadi endemik juga tergantung dengan penanganannya.

"Jadi menurut saya tidak masuk akal model matematis itu, Covid-19 akan hilang pada bulan April tanpa intervensi yang besar, vaksinasinya saja di seluruh dunia belum merata," pungkasnya. ***

Editor: JurnalNews

Tags

Terkini

Oppo Reno8 Resmi Dirilis, Cek Spesifikasi dan Harga

Senin, 15 Agustus 2022 | 18:11 WIB
X